Ummi Hanya butuh perhatian
Pemerintah Aceh
Sejak
600 tahun lalu perpustakaan ini dikelola secara turun menurun, perpustakaan ini
terletak di kaki gunung Seulawah yang berjarak sekitar 42 km ke arah Timur Kota
Banda Aceh, atau sekitar 7 km ke pedalaman sebelah Utara ibuk ota Kec.
Seulimum. Mulai dari pendirinya Syeh Fairus Al-Baghdady pada masa pemerintahan
Sultan Iskandar Muda, diteruskan oleh seorang anaknya bernama Syeh Nayan.
Kemudian Syeh Nayan ini mewariskan kembali perpustakaan tersebut sekaligus pesantrennya
bernama Syeh Abdul Hafidh. Selanjutnya beralih ke tangan Syeh Abdurrahim, yang
menurut catatan sejarah, Syeh Abdurrahim termasuk pewaris pesantren Tanoh Abee
yang sangat banyak mengumpulkan naskah-naskah kuno untuk menjadi koleksi
perpustakaan. Dari Syeh Abdurrahim perpustakaan dan pesantren ini diwarisi oleh
Syeh Muhammad Saleh. Diteruskan oleh anaknya Syeh Abdul Wahab. Kemudian Syeh
Muhammad Sa’id. Dari Muhammad Sa’id pesantren ini diurus oleh Teungku Muhammad
Ali, hingga kemudian jatuh kepada pewaris terakhir sekarang ini, yaitu
Al-Fairusy, sebagai pewaris urutan ke-9.
Semasa
perang Aceh melawan Belanda dari tahun 1873-1913 M, Dayah ini Tanoh Abee
tersohor sebagai salah satu tempat konsentrasi laskar Aceh. Uniknya dari
perpustakaan ini adalah Abu Tanoh Abee yang diteruskan oleh pihak keluarga. Di
dalam dayah ini tersimpan banyak karya-karya klasik ulama-ulama nusantara
bahkan Timur Tengah, yang semuanya itu disalin kembali oleh Abu Tanoh Abee.
Manuskrip-manuskrip kuno itu berjumlah 6000 judul kitab.
Sebagiannya ada yang dicuri oleh Belanda ketika perang berkecamuk, rusak akibat tersimpan lama di gua saat kitab-kitab ini disimpan agar tidak di curi oleh Belanda dan banyak juga yang terbakar akibat perang, dan saat ini banyak sekali mauskrip-manuskrip yang rusak dan di makan rayap. Sebagian kitab-kitab itu juga sempat di simpan di sebuah dayah di Bitai. Akan tetapi akibat Tsunami, kitab kuno itu pun lenyap karena gelombang Tsunami.
Sebagiannya ada yang dicuri oleh Belanda ketika perang berkecamuk, rusak akibat tersimpan lama di gua saat kitab-kitab ini disimpan agar tidak di curi oleh Belanda dan banyak juga yang terbakar akibat perang, dan saat ini banyak sekali mauskrip-manuskrip yang rusak dan di makan rayap. Sebagian kitab-kitab itu juga sempat di simpan di sebuah dayah di Bitai. Akan tetapi akibat Tsunami, kitab kuno itu pun lenyap karena gelombang Tsunami.
Perpustakaan ini merupakan tempat penyimpanan
buku-buku dan catatan peninggalan ulama-ulama Aceh zaman dahulu, yang ditulis
dalam bahasa Arab. Judul buku yang telah ditulis ini sebanyak 3.000 sampai
dengan 4000 judul, yang kesemuanya itu ditulis tangan, yaitu ilmu pengetahuan
tentang Islam, Sejarah dan kebudayaan Aceh dari abad 16 hingga 19 M.
Perpustakaan Tanoh Abee terletak di dalam kompleks Pesantren Tanoh Abee yang
didirikan oleh keluarga Fairus yang hampir mencapai klimaks kejayaannya pada
masa pimpinan Syeh Abdul Wahab yang dikenal dengan Teungku Chik Tanoh Abee. Beliau
meninggal pada tahun 1894 dan dimakamkan di Tanoh Abee. Pengumpulan naskah
(manuskrip) Dayah Tanoh Abee telah dimulai sejak Syekh Abdul Rahim, kakek dari
Syekh Abdul Wahab. Naskah yang terakhir ditulis pada masa Syekh Muhammad Sa’id,
anak Syekh Abdul Wahab yang meninggal dunia pada tahun 1901 di Banda Aceh,
dalam tahanan Belanda. Perpustakaan ini banyak dikunjungi wisatawan baik
domestik maupun mancanegara. Namun, apa penyebab karya-karya
ulama itu tidak boleh dibaca bahkan dipegang oleh orang lain?
Menurut
Ummi, hal ini sudah menjadi wasiat Alm. Abu Tanoh Abee. Bahkan ada kitab yang
berada satu lemari didalam perpustakaan itu tidak boleh dirawat atau
dibersihkan oleh oleh keluarga beliau. Saat ini kitab-kitab itu sudah ditangani
oleh pihak PKPM dan dari sebuah lembaga yang berada di Jepang. Kitab-kitab
tersebut dibawa ke Jepang, demi menjaga manuskrip-manuskrip kuno itu, yaitu
untuk dicetak dan disalin ulang tanpa mengubah isi untuk menjaga dari
kerusakan-kerusakan oleh usia dan rayap. Di perpustakaan ini banyak sekali
terdapat tulisan Syech Babah Daud yang menulis kitab Masailah Mu’tadin. Sejauh menyangkut naskah Aceh, persentuhan tradisi tulis
dengan proses islamisasi yang terjadi pada masa yang sangat awal di Aceh juga
telah membentuk karakteristik dan kekhasannya. Khazanah naskah Aceh menjadi
sangat kental dan cenderung identik dengan khazanah keislaman, terutama karena
banyaknya naskah-naskah keagamaan karangan para penulis yang notabene adalah
tokoh agama atau ulama terkemuka pada masanya, seperti Hamzah Fansuri,
Syamsuddin Al-Sumatra’i, Nurudin Al-Raniry, Abdurauf ibn Ali al-Jawi
al-Fansuri, Muhammad Zain anak Fakih Jalaludin, Teungku Khatib Langgien, dan
masih banyak tokoh lainnya.
“Ada
400 judul yang sudah di Retorasi, jadi hanya sebahagian kecil yang dari seluruh
koleksi yang sudah di Retorasi. Perbaikan koleksi dan Pengkatalogan koleksi pun
di lakukan oleh orang Jepang, ada 3 katalog yaitu Buku ke 1, Buku ke 2 dan Buku
3. Nah buku katalog ke 3 ini yang semuanya berjumlah 280
bundel naskah yang terdiri dari 367 teks, Semua
teks itu dipilah-pilah berdasarkan kategori kandungan isinya, yaitu: Ilmu
al-Quran sebanyak 7 teks, Hadis sebanyak 14 teks, Tafsir sebanyak 16 teks, Tasawuf,
sebanyak 55 teks, Tauhid sebanyak 54 teks, Logika sebanyak 4 teks, Ushul Fikih
sebanyak 2 teks, Sejarah sebanyak 10 teks, Zikir dan Doa sebanyak 17, Fikih
sebanyak 99 teks, Tatabahasa sebanyak 78 teks, dan lain-lain sebanyak 11 teks.
Masih
banyak tersisa koleksi-koleksi yang tidak di perhatikan, dan ini membuat
ketakutan akan musnahnya manuskrip-manuskrip yang ada di perpustakaan itu. Melihat prosentasi kategori naskah di atas, jelas kita
punya gambaran bahwa koleksi naskah Dayah Tanoh Abee ini sangat kental
karakteristik agamanya, sehingga penelitian atasnya tidak cukup dengan
mengandalkan pendekatan sastra saja, melainkan juga harus ditempatkan dalam
konteks kajian keislaman.” ujar Khairul (kata santri yang memandu kami).
Kunjungan
itu membuat saya terheran nyata disaat Ummi mengatakan: “Saya tidak minta
kerjasama, saya tidak butuh uang, tidak butuh mobil untuk hal ini karena saya
punya semua, saya hanya ingin imbalan yaitu saya butuhkan adalah perhatian
pemerintah atas perpustakaan ini. Karena apa, saya sangat benci semua orang
Jakarta, Medan, dan khususnya orang Aceh sendiri yang datang kesini, mereka
hanya ingin informasi saja untuk tugas-tugas
penelitian mereka, baik yag Profesor, Doktor, maupun Sarjana. Hal ini
sangat membosankan bagi saya, karena tidak menghasilkan apa-apa untuk saya.
Setelah mereka membuat penelitian dan mendapatkan informasi dari saya mereka
menghilang tanpa berterimakasih atau memberikan imbalan, padahal saya sudah
banyak meluangkan waktu untuk mereka, pekerjaan rumah saya tinggalkan. Sekarang
saya hanya melayani orang-orang luar yang sudah diwasiatkan oleh Alm. Abu
sebelum meninggal, seperti Malaysia, Jepang. Kenapa orang malaysia dan jepang,
ini dikarenakan, mereka lah yang membantu dan banyak menyumbangkan uang atau
bantuannya kepada kami, dulu semasa Abu sakit jantung dan dirawat di Penang.
Hanya orang malaysia yang membiayai semua dana operasi dan pengobatan Abu
sampai selesai. Dan yang sangat mengecewakan hati saya adalah Pemerintah Aceh
yang tidak peduli sama sekali, ini lah yang membuat saya malas dan tidak suka
dengan orang Aceh walaupun saya sendiri juga orang Aceh. Kalau seperti ini
terus menerus, Pemerintah kurang memperhatikan, lebih baik semua koleksi ini
saya bakar atau menunggu tembok runtuh untuk musnahkan, karena saya tidak
mendapatkan apa-apa. Buat apa saya capek menjaga dan melayani semua orang yang
datang untuk mendapatkan informasi kalau saya tidak mendapatkan imbalan, karena
ini koleksi ini menggangu pekerjaan saya sehari-hari, baik dari kegiatan
memasak hingga pekerjaan rumah tangga lainnya.” ujar Hj. Rumani (Ummi, istri Abu
Tanoh Abee).
Inilah
sepenggal harapan Ummi saat ini. Nah dalam hal ini, dapat kita simpulkan bahwa,
Siapkah kita kehilangan semua manuskrip dan koleksi itu ? Jika pemerintah masih
saja cuek dengan hal ini, apa yang akan kita lakukan ? harapan kita adalah
pemerintah segera memperhatikan hal ini, agar semua manuskrip itu tidak musnah.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar