Rabu, 12 Februari 2014

Perpustakaan Tanoh Abee


Ummi Hanya butuh perhatian Pemerintah Aceh
Sejak 600 tahun lalu perpustakaan ini dikelola secara turun menurun, perpustakaan ini terletak di kaki gunung Seulawah yang berjarak sekitar 42 km ke arah Timur Kota Banda Aceh, atau sekitar 7 km ke pedalaman sebelah Utara ibuk ota Kec. Seulimum. Mulai dari pendirinya Syeh Fairus Al-Baghdady pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, diteruskan oleh seorang anaknya bernama Syeh Nayan. Kemudian Syeh Nayan ini mewariskan kembali perpustakaan tersebut sekaligus pesantrennya bernama Syeh Abdul Hafidh. Selanjutnya beralih ke tangan Syeh Abdurrahim, yang menurut catatan sejarah, Syeh Abdurrahim termasuk pewaris pesantren Tanoh Abee yang sangat banyak mengumpulkan naskah-naskah kuno untuk menjadi koleksi perpustakaan. Dari Syeh Abdurrahim perpustakaan dan pesantren ini diwarisi oleh Syeh Muhammad Saleh. Diteruskan oleh anaknya Syeh Abdul Wahab. Kemudian Syeh Muhammad Sa’id. Dari Muhammad Sa’id pesantren ini diurus oleh Teungku Muhammad Ali, hingga kemudian jatuh kepada pewaris terakhir sekarang ini, yaitu Al-Fairusy, sebagai pewaris urutan ke-9.
Semasa perang Aceh melawan Belanda dari tahun 1873-1913 M, Dayah ini Tanoh Abee tersohor sebagai salah satu tempat konsentrasi laskar Aceh. Uniknya dari perpustakaan ini adalah Abu Tanoh Abee yang diteruskan oleh pihak keluarga. Di dalam dayah ini tersimpan banyak karya-karya klasik ulama-ulama nusantara bahkan Timur Tengah, yang semuanya itu disalin kembali oleh Abu Tanoh Abee. Manuskrip-manuskrip kuno itu berjumlah 6000 judul kitab.
Sebagiannya ada yang dicuri oleh Belanda ketika perang berkecamuk, rusak akibat tersimpan lama di gua saat kitab-kitab ini disimpan agar tidak di curi oleh Belanda dan banyak juga yang terbakar akibat perang, dan saat ini banyak sekali mauskrip-manuskrip yang rusak dan di makan rayap. Sebagian kitab-kitab itu juga sempat di simpan di sebuah dayah di Bitai. Akan tetapi akibat Tsunami, kitab kuno itu pun lenyap karena gelombang Tsunami.
Perpustakaan ini merupakan tempat penyimpanan buku-buku dan catatan peninggalan ulama-ulama Aceh zaman dahulu, yang ditulis dalam bahasa Arab. Judul buku yang telah ditulis ini sebanyak 3.000 sampai dengan 4000 judul, yang kesemuanya itu ditulis tangan, yaitu ilmu pengetahuan tentang Islam, Sejarah dan kebudayaan Aceh dari abad 16 hingga 19 M. Perpustakaan Tanoh Abee terletak di dalam kompleks Pesantren Tanoh Abee yang didirikan oleh keluarga Fairus yang hampir mencapai klimaks kejayaannya pada masa pimpinan Syeh Abdul Wahab yang dikenal dengan Teungku Chik Tanoh Abee. Beliau meninggal pada tahun 1894 dan dimakamkan di Tanoh Abee. Pengumpulan naskah (manuskrip) Dayah Tanoh Abee telah dimulai sejak Syekh Abdul Rahim, kakek dari Syekh Abdul Wahab. Naskah yang terakhir ditulis pada masa Syekh Muhammad Sa’id, anak Syekh Abdul Wahab yang meninggal dunia pada tahun 1901 di Banda Aceh, dalam tahanan Belanda. Perpustakaan ini banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Namun, apa penyebab karya-karya ulama itu tidak boleh dibaca bahkan dipegang oleh orang lain?
Menurut Ummi, hal ini sudah menjadi wasiat Alm. Abu Tanoh Abee. Bahkan ada kitab yang berada satu lemari didalam perpustakaan itu tidak boleh dirawat atau dibersihkan oleh oleh keluarga beliau. Saat ini kitab-kitab itu sudah ditangani oleh pihak PKPM dan dari sebuah lembaga yang berada di Jepang. Kitab-kitab tersebut dibawa ke Jepang, demi menjaga manuskrip-manuskrip kuno itu, yaitu untuk dicetak dan disalin ulang tanpa mengubah isi untuk menjaga dari kerusakan-kerusakan oleh usia dan rayap. Di perpustakaan ini banyak sekali terdapat tulisan Syech Babah Daud yang menulis kitab Masailah Mu’tadin. Sejauh menyangkut naskah Aceh, persentuhan tradisi tulis dengan proses islamisasi yang terjadi pada masa yang sangat awal di Aceh juga telah membentuk karakteristik dan kekhasannya. Khazanah naskah Aceh menjadi sangat kental dan cenderung identik dengan khazanah keislam­an, terutama karena banyaknya naskah-naskah keagamaan karangan para penulis yang notabene adalah tokoh agama atau ulama terkemuka pada masanya, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatra’i, Nurudin Al-Raniry, Abdurauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri, Muhammad Zain anak Fakih Jalaludin, Teungku Khatib Langgien, dan masih banyak tokoh lainnya.
“Ada 400 judul yang sudah di Retorasi, jadi hanya sebahagian kecil yang dari seluruh koleksi yang sudah di Retorasi. Perbaikan koleksi dan Pengkatalogan koleksi pun di lakukan oleh orang Jepang, ada 3 katalog yaitu Buku ke 1, Buku ke 2 dan Buku 3. Nah buku katalog ke 3 ini yang semuanya berjumlah 280 bundel naskah yang terdiri dari 367 teks, Semua teks itu dipilah-pilah berdasarkan kategori kandungan isinya, yaitu: Ilmu al-Quran sebanyak 7 teks, Hadis sebanyak 14 teks, Tafsir sebanyak 16 teks, Tasawuf, sebanyak 55 teks, Tauhid sebanyak 54 teks, Logika sebanyak 4 teks, Ushul Fikih sebanyak 2 teks, Sejarah sebanyak 10 teks, Zikir dan Doa sebanyak 17, Fikih sebanyak 99 teks, Tatabahasa sebanyak 78 teks, dan lain-lain sebanyak 11 teks.
Masih banyak tersisa koleksi-koleksi yang tidak di perhatikan, dan ini membuat ketakutan akan musnahnya manuskrip-manuskrip yang ada di perpustakaan itu. Melihat prosentasi kategori naskah di atas, jelas kita punya gambaran bahwa koleksi naskah Dayah Tanoh Abee ini sangat kental karakteristik agamanya, sehingga penelitian atasnya tidak cukup dengan mengandal­kan pendekatan sastra saja, melainkan juga harus ditempatkan dalam kon­teks kajian keislaman.” ujar Khairul (kata santri yang memandu kami).
Kunjungan itu membuat saya terheran nyata disaat Ummi mengatakan: “Saya tidak minta kerjasama, saya tidak butuh uang, tidak butuh mobil untuk hal ini karena saya punya semua, saya hanya ingin imbalan yaitu saya butuhkan adalah perhatian pemerintah atas perpustakaan ini. Karena apa, saya sangat benci semua orang Jakarta, Medan, dan khususnya orang Aceh sendiri yang datang kesini, mereka hanya ingin informasi saja untuk tugas-tugas  penelitian mereka, baik yag Profesor, Doktor, maupun Sarjana. Hal ini sangat membosankan bagi saya, karena tidak menghasilkan apa-apa untuk saya. Setelah mereka membuat penelitian dan mendapatkan informasi dari saya mereka menghilang tanpa berterimakasih atau memberikan imbalan, padahal saya sudah banyak meluangkan waktu untuk mereka, pekerjaan rumah saya tinggalkan. Sekarang saya hanya melayani orang-orang luar yang sudah diwasiatkan oleh Alm. Abu sebelum meninggal, seperti Malaysia, Jepang. Kenapa orang malaysia dan jepang, ini dikarenakan, mereka lah yang membantu dan banyak menyumbangkan uang atau bantuannya kepada kami, dulu semasa Abu sakit jantung dan dirawat di Penang. Hanya orang malaysia yang membiayai semua dana operasi dan pengobatan Abu sampai selesai. Dan yang sangat mengecewakan hati saya adalah Pemerintah Aceh yang tidak peduli sama sekali, ini lah yang membuat saya malas dan tidak suka dengan orang Aceh walaupun saya sendiri juga orang Aceh. Kalau seperti ini terus menerus, Pemerintah kurang memperhatikan, lebih baik semua koleksi ini saya bakar atau menunggu tembok runtuh untuk musnahkan, karena saya tidak mendapatkan apa-apa. Buat apa saya capek menjaga dan melayani semua orang yang datang untuk mendapatkan informasi kalau saya tidak mendapatkan imbalan, karena ini koleksi ini menggangu pekerjaan saya sehari-hari, baik dari kegiatan memasak hingga pekerjaan rumah tangga lainnya.” ujar Hj. Rumani (Ummi, istri Abu Tanoh Abee).

Inilah sepenggal harapan Ummi saat ini. Nah dalam hal ini, dapat kita simpulkan bahwa, Siapkah kita kehilangan semua manuskrip dan koleksi itu ? Jika pemerintah masih saja cuek dengan hal ini, apa yang akan kita lakukan ? harapan kita adalah pemerintah segera memperhatikan hal ini, agar semua manuskrip itu tidak musnah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar